Pages

Tuesday, November 4, 2008

Kepemimpinan Kepala daerah

1. Konsep Kepemimpinan
Kepemimpinan (leadership) sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok guna mencapai sebuah visi atau serangkaian tujuan yang ditetapkan.
Sumber pengaruh ini bisa bersifat formal, seperti seseorang yang menempati suatu jabatan manajerial dalam sebuah organisasi. Posisi manajerial memiliki tingkat otoritas yang tinggi yang diakui secara formal. ( Robbins dan Judge, 2001:49).
Selanjutnya Robbins dan Judge (2001:ibid) mengemukakan bahwa tidak semua pemimpin adalah manajer dan tidak semua manajer adalah pemimpin hanya karena suatu organisasi memberikan hak-hak formal tertentu kepada seseorang untuk menjadi manajer dan bukan jaminan mereka pemimpin yang efektif. Mengingat bahwa ada pemimpin non formal yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain yang muncul dari luar struktur formal suatu organisasi.
Kepemimpinan adalah suatu proses yang kompleks dimana seseorang mempengaruhi orang-orang lain untuk mencapai suatu misi, tugas, atau sasaran, dan mengarahkan organisasi dengan cara yang membuatnya lebih efektif.
Menurut Hemphill&Coons (1957:7) “ Leadership is the behaviour of an individual...directing the activities of a group toward a shared goal” bahwa kepemimpinan merupakan perilaku individu yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran.
Menurut Koontz & Donell ( 1976:557) Leadership is the art of inducing subordinates to accomplish their assignment with zeal and confidence.
Kepemimpinan merupakan sebuah seni untuk membujuk bawahan untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan semangat dan penuh keyakinan.
Lebih lanjut Argawal (1982:224) mengemukakan bahwa “ Leadership is the art of influencing others to direct their will abilities and efforts to the achievement of leader’s goals. In the context of organization, leadership lies in influencing individual and group effort toward optimum achievement of organizational objectives.”
Kepemimpinan merupakan suatu seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka, kemampuan dan usaha untuk mencapai tujuan pimpinan. Dalam hubungan dengan organisasi, kepemimpinan terletak pada mempengaruhi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal.
Menurut Rauch & Behling (1984:46) bahwa “ leadership is the process of influencing the activities of an organized group toward goal achievement”. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir untuk mencapai sasaran.
Lebih lanjut Jacobs&Jaquess (1990:281) mengemukakan “ Leadership is a process of giving purpose (meaningful direction) to collective effort, and causing willing effort to be expended to achieve purpose.” Kepemimpinan yang dimaksudkan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan.
Barney and Griffin (1992:604) yang mengemukankan bahwa Leadership to describe leadership that transmits a sense of mission, stimulates learning experinces, and inspires new ways of thinking. Konsep kepemimpinan yang dikemukakan Barney dan Griffin sejalan dengan teori kepemimpinan transformasional ( transformational leadership)
Selanjutnya Weirich and Koontz (1994:490) Leadership is definied as influnce, that is , the art or process of influencing people so that they will strive willingly and enthusiastically toward the achievement of group goals.
Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dengan cara apapun, agar mampu mempengaruhi orang lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Menurut Rivai (2004:3) bahwa “ Kepemimpinan suatu proses untuk mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi.”
Definisi tentang kepemimpinan bervariasi sesuai dengan perspektif dan fenomena yang paling menarik perhatian untuk dikaji. Pada umumnya definisi kepemimpinan meliputi proses pengaruh mempengaruhi untuk mencapai tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan tersebut, mempengaruhi kelompok dan budaya. Disamping itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas untuk mencapai tujuan organisasi, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok serta memperoleh dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar atau di dalam kelompok organisasi.
Kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan berkaitan dengan proses yang disengaja dari seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam rangka mencapai suatu sasaran atau tujuan yang telah ditentukan bersama.
Dari pengertian yang dikemukakan, kepemimpinan sebagai suatu kekuatan untuk mempengaruhi orang lain, suatu alat atau sarana untuk membujuk orang lain agar secara sukarela mau mengikuti apa yang diarahkan.
Definisi kepemimpinan secara luas meliputi mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Menurut Rivai (2003:3) ada tiga implikasi penting yang terkandung dalam aspek kepemimpinan yaitu : (1) kepemimpinan itu melibatkan orang lain baik itu bawahan maupun pengikut, (2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang, karena anggota kelompok bukanlah tanpa daya, (3) adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya melalui berbagai cara.

Dengan demikian kepemimpinan hakikatnya adalah :
1. Suatu proses mempengaruhi dalam mencapai suatu tujuan;
2. Seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepercayaan, kepatuhan, kerjasama dalam mencapai tujuan bersama;
3. Kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan;
4. Unsur kepemimpinan adalah pemimpin, pengikut dan situasi tertentu.
Kepemimpinan merupakan konsep relasi, artinya kepemimpinan hanya ada dalam hubungan dengan orang lain, oleh sebab itu jika tidak ada pengikut maka tidak ada pemimpin. Dengan demikian kepemimpinan yang baik dan efektif harus mengetahui bagaimana memberikan motivasi dan berhubungan baik dengan pengikut.
Dari uraian pengertian kepemimpinan terlihat bahwa kepemimpinan menempatkan manusia sebagai titik sentral dari seluruh keputusan yang diambil seorang pemimpin. Dengan demikian kepemimpinan berdasarkan tanggung jawab atau akuntabilitas, kepedulian dan mengasihi, memahami bahwa setiap manusia memiliki suatu potensi untuk berkembang.
Kepemimpinan merupakan suatu proses yang bertujuan untuk suatu perubahan, dimana menggambarkan gerakan yang dinamis, dari situasi sekarang ke situasi atau kondisi yang berbeda. Kepemimpinan juga menyangkut intersionalitas dalam arti perubahan itu tidak asal berubah, melainkan juga ditujukan kepada suatu tujuan atau kondisi yang didambakan atau dihargai. Oleh sebab itu kepemimpinan suatu proses yang mempunyai suatu tujuan yang dilandasi oleh nilai-nilai.
Dengan demikian didalam konsep kepemimpinan terdiri dari atas empat asumsi dasar sebagai berikut :
a. Kepemimpinan berkaitan dengan peletakan untuk suatu perubahan;
b. Kepemimpinan berdasarkan pada nilai-nilai;
c. Semua orang secara potensial adalah pemimpin;
d. Kepemimpinan merupakan proses bersama.
Dari kajian uraian konsep kepemimpinan yang telah diuraikan, kepemimpinan telah didefinisikan dalam beranekaragam cara, akan tetapi sebagian besar definisi berasumsi bahwa kepemimpinan melibatkan proses pengaruh yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu.
Beranjak dari uraian definisi yang telah dikemukakan kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain :
a. Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain yaitu para bawahan, para bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan;
b. Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Kekuasaan itu dapat bersumber dari hadiah, hukuman, otoritas dan karisma;
c. Pemimpin harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri,sikap bertanggung jawab yang tulus, pengetahuan, keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan, kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain dalam membangun organisasi.
Dari pemaparan konsep kepemimpinan jelaslah bahwa kepemimpinan merupakan komponen organisasi yang sangat penting. Keberhasilan seorang pemimpin juga menentukan keberhasilan dari organisasinya.

1.1. Teori Kepemimpinan

Ada beberapa teori Kepemimpinan yang dikenal sebagai berikut :

1) Trait Theory of Leadership
Trait Theory dikenal dengan Teori Sifat Kepemimpinan, teori ini membedakan para pemimpin dengan cara berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi. Teori ini mempertimbangkan berbagai sifat dan karakteristik pribadi dari sang pemimpin. Pencarian atribut-atribut kepribadian ini seperti sosial, fisik atau intelektual guna mendeskripsikan dan membedakan pemimpin dari yang bukan pemimpin dan ini merupakan tingkatan awal dalam penelitian kepemimpinan.
Stogdill (1974 :17) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi
Judge, Bono, Ilies dan Gerdhart (2002:80) mengemukakan bahwa ekstraversi merupakan sifat terpenting dalam pemimpin efektif. Pendekatan sifat ini menunjukkan bahwa pemimpin dengan sifat ekstraversi memiliki keterbukaan, konsisten dan lebih unggul dalam hal kepemimpinan serta memiliki sifat-sifat utama yang sama.
Sifat lain yang kiranya menunjukkan kepemimpinan yang efektif adalah intelektualitas emosional (emotional intelligence). Pendekatan ini dicetuskan oleh Goleman (1998:93); George (2000:55); Caruso, Mayer dan Salovey, 2002:55); Riggio, Murphy dan Pirozzolo (2002:74) Wong dan Law (2002:74)Carusso dan Wolfe dalam David dan Zaccaro (2004:63) yang mengemukakan bahwa seseorang bisa saja memiliki pendidikan yang luar biasa, kemampuan analistis yang tajam, visi yang hebat, dan ide-ide cemerlang yang seolah tidak terbatas, akan tetapi tetap saja tidak dapat menjadi seorang pemimpin yang efektif.
Champy (2003:135) menyatakan bahwa yang terpenting adalah empati yang merupakan salah satu komponen inti emotional intelligence . Pemimpin-pemimpin dengan sifat empati bisa merasakan kebutuhan orang lain, mampu membaca reaksi orang lain. Menurut Antonakis (2003:355) menyatakan emotional intelligence (EI) penting untuk efektivitas kepemimpinan.
Akan tetapi banyak studi yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain.
Peneliti sependapat mengingat bahwa seorang individu menampilkan sifat-sifatnya tertentu, akan tetapi individu yang lain berpikir bahwa orang tersebut menjadi seorang pemimpin tidak serta merta berarti bahwa pemimpin itu berhasil dalam membuat kelompoknya mencapai tujuannya.
2) Behavioral Theory of leadership
Eksponen dari teori ini yang terkenal adalah pendekatan Managerial Grid dari Robert Blake dan Jane Mouton (1964: 20-43) mengenai Managerial Grid yang dijelaskannya bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik dengan berbagai kombinasi dua faktor mengenai faktor produksi dan manusia, teori ini pada dasarnya merepsentasikan dimensi tenggang rasa dan struktur awal yang diperkenalkan oleh Ohio State University (1940) dan atau berdimensi pada karyawan (manusia) dari studi University of Michigan yang berorientasi pada produksi (1960). Dari teori ini ditentukan 5 macam gaya kepemimpinan yang memperlihatkan gaya manajemen tim sebagai yang terbaik.
Dari teori yang ditawarkan Blake dan Mouton tersebut terlihat bahwa tabel tersebut merupakan usaha untuk menawarkan kerangka pikir yang lebih baik untuk mengonseptualisasikan gaya kepemimpinan daripada untuk menghadirkan informasi baru yang nyata dalam mengklarifikasi kesulitan kepemimpinan. Teori ini juga tidak menjamin keberhasilan seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang efektif.
3) Fiedler Contingency
Teori ini dikemukakan oleh Fred Fiedler pada tahun 1967 yang menyatakan bahwa kinerja kelompok yang efektif tergantung pada kesesuaian antara gaya kepemimpinan dan sejauh mana situasi tertentu memberikan kendali kepada kepemimpinan.
Menurut Fiedler bahwa salah satu faktor utama bagi kepemimpinan yang berhasil adalah gaya kepemimpinan dasar seorang individu.
Fiedler (1967) beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan dan sesuai situasi yang dihadapinya. Menurut Fiedler ada tiga (3) faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah :
a. Hubungan antara pemimpin dan bawahan, yaitu sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahannya untuk mengikuti petunjuk pemimpin;
b. Struktur tugas yaitu sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
Kekuatan posisi yaitu sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin, karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sejauh mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat.
Fiedler menyimpulkan bahwa pendekatan yang berorientasikan tugas lebih efektif bila kondisi kelompok sangat menguntungkan (pemimpin baik/hubungan kelompok baik, posisi pemimpin kuat, dan struktur buruk/relasi kelompok buruk, posisi pemimpin lemah dan tugas yang tidak jelas). Kepemimpinan yang berorientasi kelompok lebih disukai jika kondisi relatif stabil, yang dengan demikian perhatian dapat dicurahkan pada preservasi relasi kelompok, upaya pencegahan konflik, dan pekerjan yang tidak efisien yang kemudian dapat membuat keadaan kelompok menjadi tidak harmonis.
Diakui bahwa teori kontingensi ini lebih sempurna dibanding teori-teori sebelumnya, namun jika kita kaji lagi, teori ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.

4) Situational Leadership Theory
Teori kepemimpinan situasional merupakan pengembangan teori sifat kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan.
Studi-studi kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasikan karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Teori ini juga membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, tidak hanya berdasarkan sifat kepribadian pemimpin.
Hersey dan Blanchard (1974:1-15) teori ini berfokus pada kesiapan pengikut. Gaya kepemimpinan dan bergantung pada tingkat kesiapan pengikutnya. Penekanan pada pengikut dalam efektivitas kepemimpinan mencerminkan realitas bahwa para pengikutlah yang menerima atau menolak pemimpin tersebut.
Istilah kesiapan merujuk pada tingkat sampai mana orang memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Hersey dan Blanchard mengidentifikasikan empat (4) perilaku pemimpin yang khusus dari sangat direktif sampai laissez-faire. Perilaku mana yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan motivasi pengikut. Teori ini berasumsi bahwa (1) apabila seorang pengikut tidak mampu dan tidak bersedia, pemimpin harus memberikan pengarahan secara jelas dan spesifik; 2) apabila para pengikut tidak mampu tetapi bersedia, pemimpin harus menampilkan orientasi tugas yang tinggi untuk mengimbangi kurangnya kemampuan para pengikut serta orientasi hubungan yang juga tinggi untuk membuat para pengikut menurut dan mematuhi keinginan pemimpin; (3) apabila para pengikut mampu tetapi bersedia maka pemimpin harus menggunakan gaya yang supportif dan partisipatif, dan (4) apabila pengikutnya mampu dan bersedia pemimpin tidak perlu berbuat banyak.
Pendekatan teori ini memiliki daya tarik intuitif dan mengakui bahwa arti penting pengikut dibangun diatas logika bahwa para pemimpin dapat memberikan kompensasi keterbatasan kemampuan dan motivasi dalam diri pengikut mereka
5) Path Goal Theory
Teori path goal dikembangkan oleh House (1971:321-323). Elemen-elemen dari teori ini diambil dari penelitian Kepemimpinan Ohio State University tentang struktur awal dan tenggang rasa serta teori pengharapan motivasi. Inti dari teori ini bahwa tugas pemimpin untuk untuk memberikan informasi, dukungan atau sumber-sumber daya lain yang dibutuhkan kepada para pengikut agar bisa mencapai berbagai tujuan mereka. Istilah path goal berasal dari keyakinan bahwa para pemimpin yang efektif semestinya bisa menunjukkan jalan untuk membantu pengikut-pengikut mereka mendapatkan hal-hal yang mereka butuhkan untuk pencapaian tujuan kerja dan mempermudah jalan serta menghilangkan berbagai kendala.
Teori ini mengemukakan bahwa memberikan tugas pemimpin untuk membantu para pengikut dalam mencapai tujuan-tujuan mereka dan untuk memberi pengarahan yang dibutuhkan dan/atau dukungan untuk memastikan bahwa tujuan – tujuan mereka selaras dengan tujuan umum kelompok atau organisasi.
House selanjutnya mengidentifikasikan empat (4) perilaku kepemimpinan yaitu (1) pemimpin yang direktif memberitahu kepada para pengikut mengenai apa yang diharapkan dari mereka, menentukan pekerjaan yang harus mereka selesaikan dan memberikan bimbingan terkait dengan cara menyelesaikan berbagai tugas tersebut; (2) pemimpin yang supportif adalah pemimpin yang ramah dan memperhatikan kebutuhan para pengikut; (3) pemimpin yang berpartisipatif bermusyawarah dengan para pengikut dan menggunakan saran-saran mereka sebelum mengambil suatu keputusan;(4) pemimpin berorientasi pencapaian menetapkan tujuan-tujuan yang besar dan mengharapkan pengikutnya untuk bekerja dengan sangat baik.
Perbedaan House dan Fiedler adalah House berasumsi bahwa pemimpin itu fleksibel dan bahwa pemimpin yang sama bisa menampilkan satu atau seluruh perilaku ini bergantung pada situasi yang ada.
6) Charismatic Leadership Theory
Menurut Max Weber(1947) seorang sosiolog adalah orang pertama yang membahas tentang kepemimpinan kharismatik. Kharisma merupakan sifat tertentu dari seseorang yang membedakannya dari orang-orang lain dan biasanya dianggap sebagai kemampuan supernatural, manusia hebat atau super, ada hal-hal istimewa, kemampuan ini dianggap sebagai anugerah dari Tuhan, dan berdasarkan hal ini seseorang dianggap sebagai seorang pemimpin.
Menurut House dalam Conger dan Kanungo (1988:79) bahwa kepemimpinan karismatik dimana para pengikut memandang pemimpinya sebagai sifat yang heroik atau kepemimpinan yang luar biasa saat mengamati perilaku tertentu.
Awamleh dan Gardner (1999:73)mengemukakan adanya empat (4) karakteristik yaitu (1) memiliki visi, (2) bersedia mengambil resiko pribadi untuk mencapai visi tersebut, (3) sensitive terhadap kebutuhan bawahan dan (4) memiliki perilaku yang luar biasa.
Menurut Conger dan Kanungo (1998:94) karakteristik kunci kepemimpinan karismatik yaitu (1) visi dan artikulasi; (2) resiko pribadi; (3) sensitive dengan kebutuhan bawahan; dan (4) perilaku yang tidak konvensional. House dan Howell (199281-108) bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil.
Teori karismatik memang terbukti efektivitasnya, akan tetapi teori ini tergantung kepada karisma dari pemimpinnya, diakui pemimpin karismatik cenderung berhasil dalam kepemimpinannya, tetapi keberhasilan tersebut tergantung pada situasi dan visi dari pemimpin, apabila visinya baik maka organisasi akan berhasil dan sukses, akan tetapi apabila visi dan misi tersebut merupakan kepentingan pribadi dari pemimpin karismatik maka dapat membahayakan contohnya tokoh Hitler dari Jerman.
7) Transactional Leaders
Robbins dan Judge (2007:90) mengemukakan bahwa pemimpin transaksional adalah pemimpin yang mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka.
Menurut Bass (1990:22) karakteristik pemimpin transaksional adalah (1) penghargaan bersyarat yaitu menjalankan pertukaran kontraktual antara penghargaan dan usaha, menjanjikan penghargaan untuk kinerja yang bagus, dan mengakui pencapaian yang diperoleh; (2) manajemen dengan pengecualian (aktif) yaitu mengamati dan mencari penyimpangan dari aturan-aturan dan standar, serta melakukan tindakan perbaikan; (3) manajemen dengan pengecualian (pasif) yaitu yang dilakukan hanya jika standar tidak tercapai; (4) laissez-faire yaitu melepaskan tanggungjawab dan menghindari pengambilan keputusan.
Laissez-faire adalah karakteristik yang paling tidak efektif dimana pemimpinnya pasif. Sedangkan karakteristik yang menggunakan manajemen baik aktif maupun pasif cenderung memberikan reaksi saat ada masalah, dan biasanya sudah terlambat, karakteristik kepemimpinan seperti ini juga termasuk pemimpin yang tidak efektif.
Selanjutnya kepemimpinan yang memberikan penghargaan bersyarat bisa menjadi gaya kepemimpinan yang efektif, akan tetapi kelemahannya pemimpin seperti ini tidak mampu mendorong pengikutnya untuk bekerja diluar cakupan bidang tugasnya.
8) Transformational Leader
Robbins dan Judge (2007:90) mengemukakan bahwa pemimpin transformasional menginspirasikan para pengikutnya untuk mengabaikan kepentingan pribadi pengikutnya untuk kebaikan organisasi dan mereka memiliki pengaruh yang luar biasa pada diri pengikutnya.
Bass (1990:22) mengemukakan karakteristik dari pemimpin transformasional yaitu (1) pengaruh yang ideal yaitu memberikan visi dan misi, menanamkan kebanggaan, serta mendapatkan respek dan kepercayaan; (2) motivasi yang inspirasional yaitu mengkomunikasikan ekspektasi yang tinggi, menggunakan simbol-simbol untuk berfokus pada upaya, dan menyatakan tujuan-tujuan penting secara sederhana; (3) stimulasi intelektual yaitu meningkatkan kecerdasan, rasionalitas, dan pemecahan masalah yang cermat dan (4) pertimbangan yang bersifat individual yang memberikan perhatian pribadi, memperlakukan masing-masing pengikutnya secara individual, serta melatih dan memberikan saran.
Menurut Jung ( 2001:185) para pemimpin transformasional mendorong bawahannya agar lebih inovatif dan kreatif. Robbins dan Judge (2007:93) menyatakan bahwa para pemimpin yang transformasional lebih efektif karena mereka sendiri lebih kreatif, tetapi mereka juga lebih efektif karena mampu mendorong para pengikutnya kreatif.
Eden dan Avolio (2002:44) kepemimpinan transformasional dapat dipelajari. Hasil studi atas manajer Bank Kanada menemukan bahwa para manajer yang mengikuti pelatihan kepemimpinan transformasional memiliki kinerja bank cabang yang jauh lebih baik daripada manajer yang tidak mengikuti pelatihan. Studi-studi lain menunjukkan hasil yang sama.
Teori transformasional bukanlah teori yang sempurna, Jika dikaji lebih jauh, penelitian-penelitian tersebut masih belum mampu merumuskan hubungan yang lebih komprehensif antara perilaku kepemimpinan transformasional dengan perilaku bawahan. Temuan-temuan dari penelitian tidak dapat digeneralisasikan karena indikator dan data yang digunakan dalam penelitian masih pada aspek tertentu.
Oleh sebab itu konseptualisasi perlu dilakukan untuk mendapatkan ukuran-ukuran yang tepat terhadap konstruk perilaku-perilaku pemimpin transformasional. Konseptualisasi diharapkan mampu menyediakan instrumen yang valid dan reliabel, yang dapat dipergunakan pada penelitian-penelitian sejenis dimasa yang akan datang.
Tidak dipungkiri para peneliti menggunakan konseptualisasi yang berbeda-beda terhadap konstruk perilaku pemimpin transformasional. Jika dikaji lebih dalam, konsep ini hampir overlapping dengan konsep kepemimpinan karismatik.
Meskipun demikian hasil studi mengindikasikan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki korelasi yang lebih kuat dibandingkan kepemimpinan transaksional dengan level perputaran karyawan yang lebih rendah, produktivitas yang lebih tinggi dan kepuasan karyawan yang lebih tinggi.
Dari teori-teori yang telah dikemukakan diatas apabila seseorang menaruh respek pada seseorang pemimpin, maka ia tidak akan berpikir tentang atribut-atribut dari si pemimpin tersebut, akan tetapi mengamati apa yang dilakukan dan diperbuat sehingga mampu mengetahui siapa sebenarnya pemimpin tersebut. Pengamatan ini dapat digunakan untuk memastikan apakah pemimpin tersebut dapat dihormati, dipercaya atau hanya mementingkan kelompok atau pribadinya sendiri menyalahgunakan kewenangan yang ada agar kelihatan lebih baik dan menguntungkan dirinya sendiri. Pemimpin yang hanya mementingkan dirinya sendiri tidak akan efektif karena anggotanya hanya akan tunduk kepadanya tetapi tidak akan mengikuti dia.
Dari teori kepemimpinan yang telah dikemukakan , umumnya teori kepemimpinan menekankan pada satu kategori tertentu sebagai dasar utama untuk menjelaskan kepemimpinan yang dianggap paling efektif. Umumnya teori kepemimpinan lebih menekankan pada karakteristik pemimpin dan penekanan itu biasanya diterapkan untuk membatasai fokus hanya pada karakter kepemimpinan.
Untuk melihat kepemimpinan dalam penelitian ini, maka akan mengacu pada teori kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional. Mengingat tingkat landasan analisisnya terdiri dari intra individu,dyadic, kelompok dan organisatoris, mengingat setiap level memberikan pemahaman yang unik, maka akan dilakukan dengan pendekatan sistemik.

1.2. Konsep Kepemimpinan Kepala Daerah

Berlandaskan konsep kepemimpinan yang telah diuraikan , kepemimpinan menempatkan manusia sebagai titik sentral dari seluruh keputusan yang diambil seorang pemimpin, berdasarkan tanggung jawab atau akuntabilitas, kepedulian dan mengasihi, memahami bahwa setiap manusia memiliki suatu potensi untuk berkembang.
Kepemimpinan merupakan suatu proses yang bertujuan untuk suatu perubahan, dimana menggambarkan gerakan yang dinamis, dari situasi sekarang ke situasi atau kondisi yang berbeda. Hal ini menyangkut intersionalitas dalam arti perubahan itu tidak asal berubah, melainkan juga ditujukan kepada suatu tujuan atau kondisi yang didambakan atau dihargai. Oleh sebab itu Kepemimpinan suatu proses mempengaruhi dan mengarahkan pengikutnya untuk suatu tujuan yang dilandasi oleh nilai-nilai.
Pemimpin adalah orang yang melaksanakan kepemimpinan (Salam, 2002:89). Lebih lanjut Salam mengemukakan perbedaan antara kepemimpinan dan pemimpin, kepemimpinan merujuk kepada suatu proses kegiatan, sedangkan pemimpin merujuk kepada pribadi atau personal dari seseorang.
Di dalam suatu organisasi atau unit kerja memiliki kepala dan biasanya diangkat oleh kepala atau lembaga lebih formal ( Ndraha, 2003:212), lebih lanjut Ndraha menyebutkan bahwa kepala diberi atau memperoleh kekuasaan sah (legitimate power). Kepala melaksanakan fungsi-fungsi manajemen agar pelaksanaan menjadi lebif efektif dan efisien.
Seseorang menjadi seorang kepala suatu organisasi (unit) kerja menurut Ndraha (2003:218) berdasarkan sistem nilai yang ada pada diri orang yang bersangkutan dan bisa menggunakan sistem nilai kepemimpinan. Adapun sistem nilai kekepalaan menurutnya antara lain kekuasaan, otoritas, perintah, kekuatan, paksaan, kekerasan, sedangkan sistem nilai kepemimpinan usia, status sosial, kepandaian keterampilan keteladanan, moralitas, kerjasama, kebersamaan, keterbukaan dan sebagainya.
Gibb (1969:89) membedakan leadership dan headship sebagai berikut :
Headship diselenggarakan melalui suatu sistem yang diorganisasikan dan tidak diakui secara spontan oleh anggotanya;
Tujuan kelompok dipilih oleh kepala (Head person) sesuai dengan minat dan tidak ditentukan kelompok itu sendiri secara internal.
Dalam headship hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali tindakan bersama untuk mencapai tujuan;
Dalam headship ada jurang sosial yang lebar antara kepala dan anggota kelompoknya, jarak sosial ini digunakan sebagai alat bantu untuk memaksa anggotanya;
Dalam leadership , kewibawaan seorang pemimpin secara spontan diakui oleh anggota kelompoknya dan terutama oleh pengikutnya. Sedangkan seorang kepala timbul karena adanya kekuasaan dari luar kelompok yang mendukung seseorang itu terhadap anggota kelompok yang bersangkutan, yang tidak dapat disebut sebagai pengikutnya.
Kochan, Schmidt dan De Cotties (1975), menurut Bass (1990:22), setuju dengan pendapat Gibb karena mereka melihat bahwa para manajer, para pemimpin pelaksana, para pejabat dan lain-lain dalam kenyataannya lebih banyak melakukan berbagai hal, lebih dari sekedar hanya memimpin saja. Kita tak dapat menafsirkan begitu saja bahwa, misalnya seseorang yang mengikuti semua tatacara seremonial dalam anggota. Akan tetapi menurut definisi yang lebih luas, bagi Bass (1960: 4) pimpinan/seorang kepala (head) adalah merupakan konsekuensi dari kedudukan (status) mereka, jadi merupakan suatu kekuasaan dari jabatan yang dipegangnya. Tanpa kedudukan semacam itu, para pemimpin (leader) masih dapat mencapai tujuan, apabila kekuasaannya itu betul-betul sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok yang dipimpinnya. Baik kedudukan (status) maupun penghormatan (esteem) tak dapat ditafsirkan. secara kaku. Dalam setiap kelompok akan berbeda. Itulah sebabnya kepemimpinan (leadership) pada hakikat dapat dibagikan kepada para anggotanya dalam derajat tertentu dan dalam situasi yang sama. Istilah kepala, ketua, direktur, menteri, presiden dan lain-lainnya, pada umumnya berkaitan dengan pengertian kekepalaan (headship). Pengertian kekepalaan mempunyai konotasi adanya kedudukan dalam hirarki organisasi, yang di dalamnya terkandung tugas, wewenang dan tanggung jawab yang telah ditentukan secara formal. Kekepalaan berkaitan dengan wewenang sah berdasarkan ketentuan formal, untuk membawahi dan memberi perintah-perintah kepada kelompok orang-orang “bawahan” tertentu dan dalam bidang masalah tertentu pula. Seorang kepala unit belum tentu dapat menjadi pemimpin. Demikian pula seorang pemimpin belum tentu mempunyai kedudukan sebagai kepala. Seorang yang tidak mempunyai pengaruh dapat saja menjadi seorang kepala instansi, dan ia baru menjadi seorang pemimpin kalau ia mampu mempengaruhi orang lain. Oleh karena itu, pimpinan yang mengepalai suatu organisasi atau salah satu unitnya harus menyadari bahwa kedudukan formal saja belum tentu merubah perilaku anak buahnya sesuai dengan yang diharapkan agar memudahkan dan melancarkan pencapaian tujuan organisasinya, atau mampu menciptakan kerjasama yang baik antara bawahannya
Sedangkan menurut Ndraha (2003:212) bahwa kekepalaan adalah gejala kekuasaan. Kekepalaan adalah kekuasaan yang sah (kewenangan) seseorang mencapai suatu tujuan melalui atau menggunakan (mengubah atau memantapkan perilaku bahkan jika perlu, mengorbankan) orang lain (organisasi). Kekepalaan organisasional adalah konsep birokrasi.
Dengan demikian pengertian kepala daerah merupakan konsekuensi dari kedudukan (status) mereka, jadi merupakan suatu kekuasaan dari jabatan yang dipegangnya.
Penguasaan seni dan ilmu kepemimpinan merupakan syarat mutlak bagi seorang kepala daerah, karena dengan kepemimpinannya itu kepala daerah akan memimpin daerah untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan daerah tersebut (Kaloh, 2003:10).
Selanjutnya Kaloh (2003:11) menyatakan bahwa pemahaman dan penguasaan ilmu kepemimpinan sangat membantu setiap kepala daerah memimpin dalam membawa organisasi mencapai tujuan. Kepemimpinan mengandung :
Pemberdayaan (empowerment). Seorang pemimpin harus memanfaatkan seni kepemimpinannya untuk memberdayakan pihak yang dipimpin;
Intuisi (intuition). Intuisi adalah pengetahuan pra-ilmiah, yang ditangkap oleh seseorang pemimpin dalam keterlibatannya di dalam situasi tertentu sehingga dia bisa mengantisipasi perubahan, mengambil risiko dan membangun kejujuran;
Pemahaman diri (self understanding). Seorang pemimpin harus menyadari kecenderungan dirinya, watak dan berbagai kepentingan pribadinya, sehingga dia bisa memilah mana kepentingan egoistiknya dan mana kepentingan masyarakatnya. Dengan begitu ia tidak mudah terjebak dalam tindakan sebenarnya hanya menguntungkan dirinya dengan mengatasnamakan kepentingan masyarakat;
Pandangan (vision) yaitu kemampuan pemimpin untuk mengimajinasikan suatu kondisi untuk memperbaiki lingkungan organisasi dan masyarakat;
Nilai keselarasan (congruence value) yaitu kemampuan pimpinan untuk mengetahui dan memahami nilai-nilai yang berkembang dalam organisasinya, nilai-nilai yang dimiliki bawahan dan masyarakatnya serta dapat memadukan kedua nilai tersebut menuju organisasi yang efektif.
Lebih lanjut Stone dan Sachs dalam Kaloh (2003:12) mengemukakan empat hal strategis bagi pemimpin dalam memimpin organisasi yaitu :
(1) memberdayakan anggota organisasi;
(2) menciptakan lingkungan pelatihan;
(3) mengupayakan agar visi, misi dan nilai-nilai organisasi menjadi milik anggota organisasi;
(4) membuka diri terhadap perkembangan dan mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan.
Dengan demikian kepemimpinan kepala daerah adalah suatu kemampuan dari seseorang yang mendapatkan kewenangan dan kekuasaan secara formal karena kedudukannya untuk menpengaruhi, mengarahkan, dan memberdayakan para pegawai dan masyarakatnya untuk mencapai visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan yaitu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

1.3. Peranan Kepemimpinan Kepala Daerah

Elizabeth R (2007:127) mengemukan bahwa peran merupakan perilaku individu dalam struktur sosial, dan merupakan aspek dinamis dari kedudukan yang akhirnya akan memberikan fasilitas tertentu sesuai dengan peranan (role).
Sedangkan menurut Rivai (2003:306) peran adalah perilaku yang diatur dan yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu . Menurutnya, konsep peran penting memahami perilaku yang diharapkan menjadi sifat untuk posisi tertentu di suatu organisaasi. Lebih lanjut Rivai (2003:307) mengemukakan bahwa peran merupakan apa yang harus dilakukan seseorang guna mensahkan keberadaannya pada posisi tertentu.
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan (Soekanto, 1982:268).
Menurut Berlo (1961:153) perilaku peranan dilakukan dengan tiga (3) pendekatan yaitu 1) ketentuan peranan; 2) gambaran peranan dan 3) harapan peranan. Ketentuan peranan adalah pernyataan dan terbuka tentang perilaku yang harus ditampilkan oleh seseorang dalam membawa perannya. Gambaran peranan adalah suatu gambaran perilaku yang secara aktual ditampilkan seseorang dalam membawakan perannya, sedangkan harapan peranan adalah harapan orang-orang terhadap perilaku yang ditampilkan seseorang dalam membawa perannya.
Robinson dalam Ginting (1999:26-27) menyatakan bahwa peranan yang diperlukan seorang pemimpin adalah (1) mencetuskan ide-ide atau sebagai seorang kepala; (2) memberi infromasi; (3) sebagai seorang perencana; (4) memberi sugesti; (5) mengaktifkan anggota;(6) mengawasi kegiatan; (7) memberi semangat untuk mencapai tujuan; (8) sebagai katalisator; (9) mewakili kelompok; (10) memberi tanggung jawab; (11) menciptakan rasa aman dan (12) sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya.
Menurut Slamet (2002:34) bahwa seorang pemimpin harus dapat melakukan sesuatu bagi anggotanya sesuai dengan jenis kelompok yang dipimpinnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemimpin untuk dapat mendinamiskan kelompok yaitu (1) mengidentifikasi dan menganalisis kelompok beserta tujuannya; (2) membangun struktur kelompok; (3) inisiatif; (4) usaha pencapaian tujuan; (5) mempermudah komunikasi dalam kelompok. (6) mempersatuakan anggota kelompok, dan (6) mengimplementasikan filosofi.
Smith (1996 : 248) mengemukakan bahwa peranan seorang pemimpin yaitu (1) me manage , memimpin dan mengembangkan stafnya secara efektif; (2) responsive terhadap perubahan; (3) proaktif dan tidak reaktif ; (4) memahami dan mengimplementasikan misi dan menggunakan misi sebagai sebuah starting point.
Ada tiga peranan utama pemimpin menurut Mintzberg (1973:54-94) yaitu 1) interpesonal role, yaitu figurehead , leader dan liaison manajer, 2) informational role yaitu sebagai monitor, disseminator dan sebagai spokesman; dan 3) decisional role yaitu sebagai entrepreneur, disturbance handler, resource allocator dan negosiator.
Merujuk dengan konsep yang telah dikemukakan mengenai peranan kepemimpinan kepala daerah , dapat dikatakan bahwa peranan kepemimpinan kepala daerah adalah 1) sebagai tokoh atau sosok yang diteladani yang dapat mempengaruhi, mengarahkan, dan mengembangkan stafnya secara efektif; 2) sebagai seorang komunikator yaitu dapat mengkomunikasikan dan mengimplementasikan visi dan misi serta menggunakan visi dan misi ; 3) responsive terhadap perubahan; 4) sebagai pemecah masalah yaitu proaktif apabila ada masalah; dan 5) sebagai pengambil keputusan.
(Kalau ada teori lagi, tolong yha dikasikan d comment..tks a lot)
posted by. Nan
(waiting staff have lunch time, I will go to Singkawang)

Sunday, February 10, 2008

Kau Terukir Dihatiku

Dear….engkaulah lukisan bayangan…..
Mungkin engkau tidak pernah tahu betapa tertariknya aku padamu,
Namun aku terlalu gengsi dengan rasa kagumku,
Aku tidak mau engkau tahu bahwa aku menyukaimu…
karena aku berpikir engkau tidak pernah menyukaiku..
Aku berpikir..engkau pasti selalu menganggap aku adalah adikmu….
Aku tidak ingin engkau tahu rasa sukaku padamu akan membuatmu
menilaiku “tolol”, sebagaimana engkau katakan, bahwa aku selalu beruntung karena wajah cantikku (saat itu sebenarnya aku sedihhh…, sepertinya engkau membenci wajah cantikku, padahal banyak orang yang memuja aku). Katamu perempuan cantik itu biasanya berotak udang…( dan aku ingin buktikan bahwa engkau salah…!!!!).

Aku tidak ingin disebut sebagai seorang penggoda..
Aku ingin katakan padamu bahwa Keberadaanku bukanlah kecantikanku
Keberadaanku karena Tuhan memberikan aku “otak” dan kecerdasan yang luar biasa…
Rasa kagumku kupendam jauh di dalam hati…
Menyimpannya dalam brankas hatiku, kode filenya saja aku mungkin sudah lupa…
Kita mungkin sama-sama mengikuti perkembangan kehidupan kita..
Tentang Perempuan-perempuan disekitarmu pun aku tahu..
Aku tersenyum getir…, anehnya aku tidak cemburu pada mereka, karena aku berpikir bahwa aku melebihi mereka, meski aku bukanlah kaum jetset seperti mereka.
Aku buktikan bahwa aku berhasil karena diriku sendiri tanpa orang lain. Aku berhasil karena keajaiban tangan Tuhan yang membantuku.
Meskipun engkau sendiri tidak pernah mengakui bahwa aku perempuan yang berbeda dari “perempuan-perempuan disekitarmu”.
Aku bangga, aku seperti sekarang ini, meski aku tidak pernah menjadi yang teristimewa dimatamu. Aku bangga pada diriku sendiri…., karena Tuhan telah memilihku…..
Aku mengambil kepingan bahagia yang kecil dari kue kebahagian itu sendiri….,
Bersama Dhy, Va dan Ra….., hidupku penuh dengan warna-warni pelangi, penuh dengan cahaya matahari, aku selalu ingin hidup hanya untuk mereka……, memberikan mereka kebahagiaan yang siapapun tidak akan dapat memberikannya kecuali Tangan Tuhan dengan melaluiku….

Dear…., lukisan kenanganku….
Hidup yang kita jalani memang sangat berbeda..
Engkau merupakan bagian dari mesin politik negari ini..,
merupakan bagian kaum jetset dari “dunia kita“
Sedangkan aku…., adalah orang biasa yang berada di jalanku…
Santai menikmati hidupku, jika pulang kantor atau ada waktu luang, aku berkutat dengan taman miniku, mengemaskan kamarku tempat dimana aku paling sukai di dunia ini, bermain dengan anak2ku, bercerita untuk mereka, bernyanyi bersama mereka, kembali menjadi anak2 jika di tengah mereka, hi10….aku bermain layang-layang, main sepak bola…wahhh…dunia anak2 itu aku nikmati, mengunjungi rumah yatim piatu, ke Panti Alma tempat anak-anak Cacat, kegiatan gereja, kegiatan Ordo Dominican, meditasi dan yoga seraya mendengar music relaxasi dan kadang-kadang aku ke mall dengan celana pendek -bersepatu skets (kembali seperti aku dua puluh dua tahun yang lalu), ke gramedia curi-curi baca komik jepang, duduk melantai dengan asyik enggak peduli pandagan orang. (Akh..kalau jadi Isteri Pejabat Daerah, aku mungkin tidak bisa seperti ini), aku mensyukuri kehidupanku. Fuiii…., aku bisa jalan-jalan kemana aku mau, menikmati pantai, menikmati pegunungan, duduk di kap mobil seraya menatap purnama dan bintang-bintag di malam hari. Chatting, membuat blog, wahhh…. Dear……, aku sangat menikmati hidupku !
Dear…..lukisan bayanganku..,
Jika engkau bertanya saat ini, “kamu bahagia, Na?”. Maka aku akan jawab…, “aku mengambil dari sebahagian kepingan kebahagian yang utuh.”
Jika engkau bertanya, “apakah ada seseorang yang telah membuatmu mengenal Cinta?”
“Maka akan kujawab, ” Mungkin,Dear. dalam khayalan semuku...dalam dunia mistisku... Seseorang yang telah mengajarkan aku apa arti Cinta sesungguhnya, bahwa cinta itu bukanlah “nafsu”…sebagaimana Cinta yang kuinginkan…., cinta yang tidak mengikat…cinta yang memberikan kebebasan…., cinta yang selalu penuh pengertian dan pengorbanan.”
Pangeran bintangku telah mengajarkannya padaku, dear.
Dia katakan, ” Nan…., jika seseorang mencintai pasangannya sungguh-sungguh, dia tidak akan merusak pasangannya.”, dan itu ia lakukan, dear. Ia tidak merusakku dengan “nafsu”, ia menjaga ku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan….., kasihnya membuatku semakin hidup.
Orang bilang, ” Nana..kamu sekarang cantik, yha.”
Sebenarnya..yang mereka lihat adalah aura dari cinta Bintangku, dan aura dari anak2ku. Aku sudah menemukan kepingan puzzle itu satu persatu…, dan masih ada lagi puzzle yang harus ketemukan agar gambar kebahagianku itu utuh.
Dear…., bagaimanapun juga…., engkau telah membuatku menjadi seperti sekarang ini, Namamu selalu kuukir dihatiku seperti aku mengukir nama pangeran bintang dihatiku. dan aku yakin..engkau sudah menemukan puzzle, mungkin telah mendahuluiku yang memang sangat terlambat sekali….., pagi hampir tiba dear…., mataku sudah lima watt.

Semoga engkau cepat sembuh, jangan makan malam-malam lagi, ntar maagmu kumat, aku ingin engkau juga bisa menikmati hidupmu dan jalan yang telah engkau pilih. Kaget juga dengar kena penyakit chikungunya.......katanya Pak Direktur RSUD S.hee.hee....becanda lageee...

Selamat Pagi, Dear…., Namamu Kuukir di hatiku. Doaku selalu untukmu.

Posted by. Nan
7 June 2007
(Masa yang lalu Masa Yang indah
Masa-masa indah bersamamu…
Dikaki bukit kita bersama, di hutan karet kita lalui, air sungai bening mengalir, Masa-masa indah YAng tAK tERLUPAkan….)

20 TAHUN KEMUDIAN



Aku sudah lama tidak mengunjungi pinggir pantai ini, tempat dimana aku selalu berteriak untuk menuangkan rasa resah hatiku, sudah banyak yang berubah…., tak ada lagi pohon bakau, dimana tempat aku mencari ikan kecil atau mengintip ikan bersayap, abrasi pantai telah melenyapkan sebagian jalanan…., dan sekarang telah diberi tanggul untuk mengurangi abrasi oleh air laut.
Matahari mulai perlahan turun…
Aku turun dari mobil, biasanya aku selalu menikmati sore di pantai ini..
Aku ingat seseorang selalu menemaniku bila hatiku resah…
Dimana dia?
Sudah dua puluh tahun aku tidak pernah bertemu dengannya..
langit berwarna merah jingga, aku berjalan menuju batu diujung sana…
Aku duduk menatap ke arah matahari yang akan terbenam, dan menggunakan kaca mata hitam menutup silau.
Aku mendengar suara mobil berhenti di belakangku
Mungkin seorang traveller yang akan mampir untuk mengusir penat
Aku masih berkutat pada kenanganku, irama biola yang dimainkannya masih menyentuh hatiku…..
“Vannie?!”, seorang pria menyapaku…, aku terpana…tidak percaya…astaga…, baru saja aku memikirkannya, kukerjapkan mata, aku takut itu hanya ilusi. Kembali kukerjapkan mataku…
“ Rasya?!”…, aku menjadi ragu. Apakah memang dia Rasya teman sepermainanku…
Kami saling bersalaman, heiii…Rasya sudah menjadi seorang pria yang sangat menarik. Tubuhnya tinggi menjulang. Matanya seperti kerlip bintang dengan kumis tipis diatas bibirnya. Kami saling bertukar cerita, Rasya sudah menduda, itu suatu kejutan bagiku, ia bersama 4 anaknya….
” Kamu enggak menikah lagi, Sya?”, tanyaku.
” capekk, Nie. Apalagi punya isteri yang cemburuan. habis dech…”, ucap Rasya.
” Isterimu sekarang dimana?’”, tanyaku.
” Kembali ke Bandung, ke tempat orang tuanya. Aku dan anak-anak tinggal di Sydney.”, ucap Rasya.
“Aku ambil cuti untuk melihat Mama.”, ucapnya.
” Iya..aku beberapa hari yang lalu melihat Mama, tapi Lestari enggak cerita bahwa kamu akan pulang.”, ucapku.
Rasya tertawa, “aku memang enggak kasi kabar, takut kalau enggak jadi bisa membuat kecewa keluarga disini.”, ucap Rasya.
“Trus ngapain kamu kesini?”, tanyaku pada Rasya.
Ia tertawa, dan wajahnya tersipu. ” Kamu ngapain disini?”, balik Rasya bertanya. ” Aku…?, aku memang selalu kesini, dan kamu tahukan kalau aku kesini.”, jawabku. Rasya tertawa lagi, tangannya memijit hidungku, ” Masih seperti yang dulu?”, tanyanya. Aku mengangguk. ” Sekarang sih..kalau kesini aku sendiri saja, kalau dulu ada kamu.”, ucapku sambil mengenang masa lalu. ” Dan kamu selalu meminjam bahuku untuk menangis, tapi kamu tidak pernah menangis.”, olok Rasya. Aku tergelak…, Rasya masih ingat kebiasaan anehku.
” Dan aku kesini…, berharap bisa berjumpa denganmu.” , ucap Rasya seraya menatapku. “Lestari selalu menceritakan kehidupanmu padaku.”, ucap Rasya. Aku tertawa, “sama dongg…”, jawabku sambil tertawa.
” Rasya duduk disampingku, tangannya mencabut rumput panjang. Diujungnya ada bunga-bunga kecil berwarna merah coklat.
” Kamu masih suka bunga rumput, Nie?”, tanya Rasya. Aku mengangguk. ” Bunga rumput itu bunga sederhana, tidak menarik perhatian orang.”, sahutku, Rasya tersenyum dan mengangguk. Di sydney aku selalu mengumpulkan bunga rumput dan mengeringkannya.”, ucap Rasya.
” Tunggu sebentar!”, Rasya berlari ke arah mobilnya. dan ditangannya terlihat bunga rumput kering yang terangkai dengan indahnya. ” Ini untukmu.”, ucap Rasya. ” Terimakasih.”, aku menerima rangkaian bunga kering itu dengan suka citanya. ” Aku selalu ingat kamu, Nie.”, ucap Rasya. Aku mengerjapkan mataku. ” Aku mengharapkanmu bisa menjadi pendamping hidupku, tapi engkau lebih memilih Win waktu itu. “, ucap Rasya tersenyum. Aku menunduk, rasa bersalah menderaku, aku ingat betapa sedihnya aku harus menentukan pilihan Win yang tidak jelas atau Rasya yang selalu setia menemaniku. Namun aku memilih Win….(meski Win tidak pernah tahu kalau aku menyukainya), dan Rasya memilih untuk pergi mengambil S2 nya dan tinggal di Sydney.
” Maafkan aku, Sya.”, ucapku menatapnya. ” Hei…, jangan sedih gitu peri kecilku.” ia mengacak rambutku dengan tangan kanannya, kebiasaan Rasya yang tidak p ernah hilang.
” Aku dengar Win sudah jadi pejabat, yha.”, ucapnya. Aku mengangguk, ” Aku tidak pernah bertemu dengan Win. Enggak berani…., lagian hidup Win sudah berubah, tidak seperti Win yang dulu. Kehidupannya ibarat “jetset” dikelilingi perempuan-perempuan cantik yang bangga jika bersamanya.”, ceritaku sambil tertawa. Rasya tertawa, ” Mas sih, Nie!” Win itukan paling anti perempuan, cool banget.”, ucap Rasya enggak percaya. “ Beneran deh, Sya. Aku telah kehilangan sosok Win yang aku sayangi, fuiii…dia pernah menudingku suka pamer kecantikan untuk jabatan, “, aku berhenti sebentar. “Apa?!, tega benar sih.”, Rasya mengerutkan keningnya. ” Iya…eh..tau-taunya, Win selingkuh sama isteri orang. Pacarnya…kononnya gonta-ganti, dan isu paling gress dia dibilang gay.”, aku tergelak. ” wah…kamu mencintai seorang, gay?”, Rasya mulai menggodaku. ” Ikh…, mau sih, kalau sama gay kan aku aman, enggak perlu service tiap malam, awet muda dongg akunya. Kan jarang dipakai, baru teruss..’, aku tertawa lagi. ” Akh…mobil kalau enggak dipakai juga jadi rusak didiemin .”, ucap Rasya dan kami sama-sama tergelak.
” Kalau sms-an sih sering, cuma Win kan suka angin-anginan, kalau mau sms, sms melulu, kalau enggak ya enggak sama sekali, ujug-ujug smsnya selalu datang, ” masih hidupkah kamu, Na?”. ceritaku pada Rasya.
” Wahh..memang kalian enggak ada jodoh.” Rasya tergelak.
” Kamu ini!”., aku memukul pundak Rasya. ” Hii…aku sudah melupakan dan menutup jauh2 perasaanku sama Win. Aku bukan perempuan idamannya. “, jawabku dengan penuh kebanggaan.
” Tapi kok dia bisa ya, memacari perempuan-perempuan seperti itu.”, ucap Rasya. ” Nah..itu memang yang dia suka.”, sahutku sambil tergelak.
” Kalau aku kan bunga rumput, Sya. Ditoleh juga enggak.”, jawabku tersenyum. ” Tapi aku suka bunga rumput, Nie. Ternyata bunga rumput itu banyak manfaatnya, hayooo……”, Rasya tersenyum.
” Hush…!”, aku menyandarkan kepalaku pada Rasya. ” Sya…, taukah kamu, aku jatuh cinta pada seseorang yang kutemui di suatu bandara.”, ucap Vannie. Rasya tertawa. ” Kok bisa?”, tanyanya. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Rasya. ” Serius, Sya. Facenya mirip dengan pria yang selalu datang dalam mimpiku dan bercinta dalam mimpiku di setiap Kamis malam.”, aku bicara serius.
Rasya menggaruk kepalanya, ” Apa mimpi itu selalu mengganggumu?”, tanya Rasya. Aku menggeleng, ” Aku menikmatinya.”, jawabku jujur.
“Apa?”, Rasya terbelalak…., ” dan dia nyata, Sya. Aku melihatnya di executive lounge di suatu bandara. Matanya dan senyumnya, tinggi badannya persis sama. Aku jatuh cinta pada pria itu, Sya.” ucapku menghela nafas.
Rasya menatapku, aneh. ” Nie…., daripada kamu mencintai pria imaginermu, coba lihat aku, nyata, 20 tahun aku aku masih menyimpan rasa sukaku padamu. Masih banyak ruang dan tempat yang tersimpan diatmosphere hatiku untukmu, Nie.”, ucap Rasya serius.
Aku terpana, kemudian aku menjawabnya, ” Sya…kamu percaya indera keenamku kan?”, tanyaku padanya.
Rasya mengangguk, Vannie punya indera keenam, dia ingat vannie bilang, “Sya…nanti kita pasti tidak akan bersama, kamu akan jauhhh dan enggak tinggal di Indonesia.”, dan kata-kata Vannie itu terbukti.
” Apa maksudmu, Nie?”, tanya Rasya.
” Aku yakin pria itu adalah Pangeran Bintangku, dia ada untukku dan dalam waktu dekat aku akan menjadi miliknya, selamanya….”
“Ha?!”, Rasya merinding, Vannie yakin dengan apa yang dirasakannya. “Pria itu memang untukku, Sya.., aku selalu bisa merasakan kehadirannya di kota ini. Namun aku tidak tahu bagaimana harus mengontaknya, aku yakin tahun depan aku dan dia bertemu dan kami akan bersama selamanya. Aku akan menjadi miliknya seutuhnya, dan aku tidak akan sendiri lagi. “, ucap Vannie.
Rasya menatap pada matahari yang semakin turun, begitu juga dengan Vannie. Mereka saling bergenggaman tangan. ” Nie…., aku akan selalu menunggumu, datanglah ke Sydney bersama anak-anakmu, temui aku disana jika mimpimu tidak terwujud. Aku dan anak-anakku akan menunggumu.”, ucap Rasya. ” Iya, pak Dokter.”, sahutku. Dan dengan terharu aku memeluk Rasya dan mencium dahinya. Rasa sayangku sebagai seorang adik.
Matahari sudah masuk kedalam peraduan, dilangit ada bintang besar bersinar, ” Itu pangeranmu.” , tunjuk Rasya. Aku mengangguk…., dan melambai ke arah bintang itu, hai kekasih…aku cinta padamu…!”, aku berteriak lantang, enggak peduli nelayan yang mau berangkat melihat ke arahku. Aku dan Rasya saling berpandangan, dan kami tertawa saling bergandengan. Akh…..20 tahun kemudian masih kutemukan Dr. Rasya sahabat kecilku, dan masih menyimpan asanya….., Sya…maafkan aku, hatiku sudah untuk pangeran bintangku.
(posted by Nan (oct 2006)

Sebuah Puisi Malam

Getar dawai di hati berdenting...
Ada alunan lembut yang bersenandung
Betapa tebalnya dinding dan panjangnya detik
Membelenggu..terasa asing bagaikan penjara Alcatras
Diantara lautan dan samudera..
mendera sepiiii.......
Jika boleh kuizinkan diriku
Aku ingin menghentikan waktu
Dan kubuat jembatan....membuat aku dan dia bersama
Menyatukan mimpi-mimpi semu
Namun.....itu hanya angan kosong
Aku sendiri tidak mengizinkan diriku
Aku hanya bisa berkata-kata
Tanpa ada tindakan apa-apa
Karena waktu untukku telah berbeda
Mungkin...
Kita Akan Bersama dalam waktu dan ruang yang ada di dunia lain


(Terinspirasi "Kasih tak Sampai by Padi)

Hidup Yang Aku Pilih

Aku tidak pernah bermimpi untuk hidup seperti apa yang kujalani
Impian remajaku bahwa suatu hari nanti aku harus bisa menunjukkan ke papi danMami, bahwa Aku juga bukanlah Anak yang marginal (hee..hee..., maklum anak tengah sich). Hidup bersama Kung Kung dan Popo mebuat aku jauh menjadi anak yang mandiri dan struggle. Tiada ada kata cengeng dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak.
Dalam perjalanan waktu, aku tumbuh menjadi seorang yang mempunyai hati yang terlalu berbelas kasih,pengertian dan mengalah. Sehingga disaat detik-detik menentukan kehidupankupun, aku memilih untuk hidup bertoleransi dan kompromi, demi kebahagiaan orang-rang disekitarku, terlebih Papi dan Mami. Meskipun aku tahu, jalan yang kupilih akan membuat aku hidup bagaikan seekor burung dalam sangkar emas. Aku hanya bisa berkomitmen dan kompromi. Demikianlah hidup yang aku pilih, dan aku berusaha menjalaninya, meskipun seringkali terancam dalam "kepunahan dan kejenuhan", namun komitmen demi anak-anak yang pintar, smart, polos dan lucu-lucu, serta rasa cinta yang demikian dalam dengan mereka, Aku memutuskan untuk tetap pada komitmen dan kompromi. Dan aku tidak pernah menyesalinya.
Aku selalu berdoa untuk anak-anakku, aku hidup demi anak-anakku, dan aku harus berjuang untuk mereka.
jadi ingat lagu yang dikarang bareng sama anak-anak :
" Buah hati Mami Dio, namanya"
Buah Hati mami Shasa namanya
Buah Hati Mami Rafa namanya
Mami sayang, Mami Cinta, Mami Sayang Dhio, Shasa dan Rafa"
Hee..hee...lagu kebangsaaan kalo mau bobo....
Inilah hidup yang telah aku pilih..
Tiada boleh aku menyesali..
Kuhadapi dunia dengan penuh senyuman dan tawa..
karena aku yakin Tuhan akan membuat segalanya Indah Pada Waktunya...
posted by.
Yani

Tuesday, December 4, 2007

Perguruan Tinggi Di Kalimantan Barat

Pendidikan di Perguruan Tinggi memikul misi yang sangat berat dan strategis yaitu bagaimana harus mempersiapkan pendidik agar memiliki kesiapan menangani permasalahan dan tantangan ke depan yang mencarikan jalan keluar terhadap perubahan-perubahan sebagai akibat arus informasi dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Pendidikan menjadi wahana strategis untuk mempersiapkan sumberdaya manusia yang bermutu yang mampu hidup bersaing dalam dunia global. Dengan demikian diharapkan Perguruan Tinggi dapat meningkatkan visi dan misinya yang mana bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia yaitu manusia yang beriman, berbudi pekerti luhur, berkepribadian. Mandiri, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional , bertanggung jawab dan produktif.

Pembangunan pada hakekatnya merupakan suatu proses transformasi dari suatu keadaan pada keadaan lain yang mendekati tatanan yang dicita-citakan. Dalam proses transformasi perlu diperhatikan adanya kesinambungan (continuity) dan perubahan. Apabila mempertahankan kesinambungan saja maka cenderung statis dan resisten terhadap perubahan dan bahkan tertutup dengan adanya ide-ide baru yang justru diperlukan dalam pencapaian tujuan. Sedangkan perubahan saja tanpa kesinambungan akan mengakibatkan suatu objeknya kehilangan jati dirinya , oleh sebab itu kita harus mampu menciptakan keseimbangan dan keselarasan antara keduanya. Disini menuntut adanya komitmen dan karya nyata dari lembaga Pendidikan. Dan sangat perlu disadari bahwa pendidikan akan sangat menentukan masa depan rakyat Kalimantan Barat secara khusus dan bangsa umumnya. Agar para lulusan kita dapat berkontribusi secara optimal dalam dunia kerja perlu rencana strategi penyelenggaraan pendidikan yang terkait dan sesuai dengan kebutuhan (link and match).

Manusia yang beriman , beretika dan berbudi pekerti yang luhur secara obyektif diperlukan karena dalam dirinya terkandung nilai-nilai yang kondusif bagi terciptanya masyarakat yang maju dan nilai-nilai yang protektif bagi berbagai dampak megatif dari suatu kemajuan zaman. Kemajuan dan kemandirian merupakan hal-hal yang diperlukan bagi ketangguhan dan keuletan seseorang unutk memenuhi kehidupannya. Kemandirian merupakan modal untuk tetap survive dan unggul dalam percaturan dunia baik lokal,nasional maupun internasional.

Dengan demikian Perguruan Tinggi harus mampu menghasilkan sumberdaya yang berkualitas yang dapat memenuhi empat kompetensi yaitu : 1) kompetensi akademik yaitu untuk menghasilkan pengembangan IPTEK yang menghasilkan pemikiran yang inovatif; 2) Kompetensi profesional yaitu manusia yang hadanl dan memiliki dan menguasai pengetahuan; 3) kompetensi nilai dan sikap berkaitan dengan kemampuan untuk selalu menempatkan segala persoalan dalam kerangka nilai-nilai budaya; 4) Kompetensi untuk menghadapi perubahan yaitu kemampuan untuk memahami makna dan hakikat suatu perubahan, kemampuan untuk mengantisipasi arah dan kecenderungan perubahan tersebut serta kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan perubahan tersebut untuk mencapai keunggulan.

Dengan mempertimbangkan keempat kompetensi tersebut, maka strategi Perguruan Tinggi, diarahkan pada upaya peningkatan mutu disegala bidang dan peningkatan relevansi dengan kebutuhan, baik menyangkut kebutuhan dunia kerja dan industri akan tenaga kerja, pengembangan industri sesuai dengan perkembangan IPTEK dan perkembangan Daerah mauoun menyangkut tantangan yang akan terjadi di masa depan.

Pengembangan sumberdaya manusia berkemampuan lanjut dititikberatkan pada penguasaan IPTEK dalam rangka pengembangan kemampuan akademik, profesional dan kepemimpinan yang dijiwai oleh semangat persatuan dan kesatuan. Disamping itu Universitas Panca Bhakti harus mampu melahirkan manusia yang berjiwa penuh pengabdian dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa yang akan datang dan mempersiapkan kader pemimpin di masa yang akan datang.

Reformasi, Demokrasi dan Politik

REFORMASI POLITIK DAN DEMOKRASI MENUJU KALIMANTAN BARAT YANG MANDIRI
Oleh. Herkulana Mekarryani


Pendahuluan

Reformasi secara umum merupakan perubahan suatu sistem yang telah ada pada suatu masa. Di Indonesia reformasi terjadi pada tahun 1998, yang menyebabkan terjadinya perubahan fundamental baik dalam atmosfir perpolitikan maupun secara sosial dan ekonomi.
Perubahan dalambidang perpolitikan dapat dilihat dengan adanya pergeseran paradigma struktur dan format politik pemerintahan yang sebelumnya “sentralistik” menjadi desentralsitik, trbuka dan demokratis. Disamping itu keberhasilan dengan mengamandemen Undang-undang Dasar 1945 yang terbukti dengan adanya Pemilihan Umum yang memilih Presiden secara langsung dan dalam kondisi yang berlangsung aman.
Reformasi demokrasi yangterjadi membentuk sebuah sistem politik yang demokratis dimana suara rakyat diharapkan sebagai pedoman bagi Pemerintah dalam menjalankan tugasnya dan rakyat menikmatikebebsannya, termasuk kebebasan dalam pengawasan terhadap Pemerintah.
Tidak dipungkiri kitapun saat ini sedang menuju kearah sana, perlahan-lahan dan oleh sebab itu perlu adanya suatu prakondisi dan lingkungan yang kondusif kearah sana, karena esensi dari demokrasi adalah memahami dan menerima perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat jangan lagi fianggap sebagai titik permusuhan tetapi harus sebagai alternatif solusi untuk mencapai suatu konsesus yang ingin dicapai bersama. Penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan pendapat semakin penting dan bermakna dalam masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia dan Kalimantan Barat khususnya. Oleh sebab itu para Pemimpin dan masyarakat harus menghormati perbedaan-perbedaan tersebut.
Pembelajaran dan pendidikan politik berdemokrasi sudah selayaknya dikembangkan mulai saat ini, agar watak berdemokrasi di masa lampau dapat diperbaharui dengan cara pandang yang logis. Disamping itu perlu adanya pengelolaan berdemokrasi yang pluralis artinya memberikan tempat secara proporsional kepada keragaman etnis budaya-agama. Dan sangatlah tepat saat kebijkana Otonomi Daerah sebagai wujud dari reformasi politik dan demokrasi dilaksanakan , karena hal ini merupakan salah satu jalan menuju demokrasi yang pluralis.


Otonomi Daerah

Keterbukaan politik yang baru pada era reformasi telah membangun sebuah lingkungan yang memungkinkan masyarakat untuk terbuka mengekspresikan opini-opini mereka. Meskipun di dalam pelaksanaan Otonomi Daerah terdapat berbagai kelemahan para pelakunya, akan tetapi terdapat persepsi yang positif terhadap semanagat Otonomi Daerah, yaitu dengan munculnya respon-respon sumbangsih nyata dari Pemerintah Daerah untuk mengimplementasikan Otonomi Daerah. Dari beberapa studi penelitian memperlihatkan di beberapa Daerah, dengan Otonomi Daerah kinerja Administratif Pemerintah Daerah lebih baik, sebagai contoh yaitu kabupaten Sidoarjo telah mencapai sebuah pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dengan membangun Pusat Industri Siborian yang baru untuk penyediaan infrastruktur di kawasan tersebut bagi pembangunan ekonominya.
Bagaimana dengan Provinsi Kalimantan Barat?, Sudahkah kita mengoptimalkan Otonomi Daerah yang merupakan perwujudan dari reformasi Politik dan Demokrasi.
Apabila melihat kondisi nyata saat ini, secara ekonomi mungkin Provinsi Kalimantan Barat sudah mulai memperlihatkan peningkatan. Akan tetapi dari aspek Kesehatan, Pendidikan , infrastruktur kita masih belum optimal.
Dengan adanya Otonomi Daerah ini sebagai peluang bagi kita untuk membangun Kalimantan Barat Emas yaitu Kalimantan Barat Yang Mandiri, dimana menjadi suatu msyarakat yang unggul dalam persaingan global. Oleh sebab itu untuk menuju kearah Kalimantan Barat Yangmandiri, maka kita perlu mengenal kekuatan, keunggulan dan kelemahan kita, dan semua ini dijadikan suatu peluang. Dan selanjutnya dilakukan dengan suatu pendekatan strategis dari Visi dan Misi pembangunan Kalimantan Barat yaitu pendekatan Pembangunan Atas Dasar Partisipasi. Dalam Pembangunan berstrategi partisipasi, intinya adalah pemberdayaan masyarakat yaitumasyarakat menjadi subyek sekaligus stakeholder atau pihak terkait dan pemegang saham pembangunan. Dengan demikian upaya yang dilakukan harus diarahkan kepada akar persoalannya yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat terutama masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan yaitu dengan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dalam pemberdayaan masyarakat ada tiga (3) strategi yang dapat digunakan : Pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Asumsinya bahwa setiap masyarakat memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong (encourage), memotivasi dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya. Strategi ini cocok untuk masyarakat yang lebih modern, mampu dan maju.
Kedua, memperkuat daya yang dimiliki oleh masyarakat (pemberdayaan). Dengan demikian diperlukan langkah-langkah yang lebih konkret selain menciptkan iklim kondusif,termasuk memberikan penyediaan berbagai sarana dan pembukaan akses ke dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi lebih berdaya. Strategi ini sesuai dengan masyarakat yang relatif kurang berdaya dan tertinggal. Pemberdayaan masyarakat pada kelompok ini tidak cukup dengan meningkatkan produktivitas, memberikan kesempatan berusaha yang sama dan suntikan modal, akan tetapi harus dijamin adanya kerjasama dan kemitraan yang erat di antara yang lebih maju dengan yang belum berkembang atas dasar saling menguntungkan. Dalam hal ini, pemberdayaan ekonomi diprioritaskan pada penduduk miskin anatra lain melalui peningkatan sumber daya mansuia, dan peningkatan permodalan yang didukung sepenuhnya dengan kegiatan pelatihan yang terintegrasi sejak kegiatan perhimpunan modal, penguasan teknik produksi, pemasaran hasil dan pengelolaan surplus usaha.

Ketiga, memberdayakan yang berarti melindungi. Perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah merupakan hal yang mendasar dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Melindungi bukan berarti mengisolasi atau menutupi diri dari interaksi akan tetapi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.
Dalam menerapkan strategi pemberdayaan harus diingat bobot dan jenis masalah yang dihadapi penduduk miskin di setiap Daerah, mengingat ruang implementasi trategi pemberdayaan masyarakat sebaiknya diserahkan kepada masyarakat setempat.
Selanjutnya perbedaan multikutural yang ada seharusnya dipandang sebagai modal kita untuk membangun Kalimantan Barat, bukan menajdi pemicu “konflik”, dan dari nilai-nilai perbedaaan tersebut terdapat banyak potensi untuk mengembangkan Daerah.
Problem atau permasalahan juga dapat dijadikan suatu poyensi untuk mendukung Kalimantan Barat Mandiri. Misalnya dengan keuangan kecil (APBD yang kecil) akan tetapi apabila optimal dan sasaran yang tepat dengan manajemen yang baik dan tepat maka akan bermanfaat bagi masyarakat dan menciptakan suatu kemajuan bagi Daerah sendiri.
Pada dasarnya keberhasilan dan kemajuan tersebut dapat dicapai apabila ada “Komitmen, Konsistensi, Kesungguhan dan Ketulusan serta Sikap Yang Positif baik Pemerintah, Swasta dan seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Barat.”

Penutup

Otonomi Daerah merupakan wujud nyata dari reformasi politik dan demokrasi di Indonesia. Otonomi Daerah merupakan suatu peluang bagi daerah Khsusunya Kalimantan Barat untuk menjadi lebih maju dan mandiri.
Untuk itu diperlukan suatu strategi pembangunan Kalimantan Barat yang baru yaitu dengan startegi partisipasi. Adapun inti dari strategi partisipasi adalah pemberdayaan masyarakat. Untuk melaksanakan semua dalam rangka menuju Kalimantan Barat Yang Mandiri perlu adanya suatu Komitmen, Konsistensi, Kesungguhan, Ketulusan dan Sikap Positif dari Pemerintah maupun Masyarakat.